Inpost-news.com– Surabaya — Enam puluh siswa dari SMA Hang Tuah 1 dan 4 Surabaya serta SMA Hang Tuah 2 dan 5 Sidoarjo yang didampingi oleh para guru kebaharian tampak berbaris rapi di tepian sisi timur Suramadu, tepatnya di Benteng Kedung Cowek (Gudang Peluru) Surabaya, Rabu, 19 November 2025. Di bawah terik matahari yang mulai meninggi, mereka mengikuti pelatihan survei oseanografi bertajuk “Dari Pantai Menuju Pengetahuan: Pelatihan Survei Oseanografi untuk Membangun Kesadaran Maritim Generasi Muda.”

Kegiatan edukatif ini diselenggarakan oleh Program Studi Oseanografi, Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan, Universitas Hang Tuah (UHT), sebagai bagian dari komitmen kampus dalam menumbuhkan literasi maritim sejak dini di lingkungan sekolah Hang Tuah yang berlatar belakang budaya bahari.
Belajar Teknologi Survei Pantai Langsung di Lapangan
Surabaya, 21-November 2025, Berbeda dengan kegiatan pembelajaran konvensional, para siswa hari itu dibekali pengalaman ilmiah langsung melalui penggunaan theodolit, alat survei yang umumnya dipakai dalam pemetaan geodetika. Dalam konteks oseanografi, theodolit digunakan untuk mengukur kemiringan pantai, parameter penting yang berfokus pada pemetaan perairan (menentukan posisi, sudut, dan elevasi di wilayah pesisir atau daratan yang berdekatan dengan laut).
Dipandu oleh Bapak Ir. Rudi Siap Bintoro, M.T. dan mahasiswa Program Studi Oseanografi UHT, para siswa dilatih membaca skala, menentukan sudut elevasi, hingga mengonversi data lapangan menjadi model kemiringan pantai sederhana.
Selain theodolit, para siswa juga dilatih untuk mengoperasikan drone. Penggunaan teknologi drone untuk pemetaan maritim, seperti memetakan habitat pesisir, memantau tutupan lahan atau mengumpulkan data lingkungan laut.
“Selama ini kami hanya melihat theodolit dan drone di buku pelajaran. Ternyata cara kerjanya sangat menarik, dan data yang dihasilkan penting untuk mengetahui apakah pantai kita mengalami perubahan,” ujar Bima, siswa kelas XI SMA Hang Tuah 4 Surabaya, seusai sesi praktik.
Analisis Kualitas Air Laut: Siswa Jadi Peneliti Cilik
Selain survei topografi pantai, peserta juga berlatih mengukur kualitas air laut dengan menggunakan alat water quality meter untuk mengetahui parameter fisik dan kimia seperti salinitas, temperatur, kekeruhan, dan pH. Sampel air kemudian diamati ulang di area pos pantai sehingga siswa memahami cara menginterpretasikan kondisi perairan.
“Kegiatan ini bukan hanya mengenalkan alat, tetapi menanamkan pola pikir ilmiah sejak sekolah menengah. Mereka belajar merumuskan masalah, mengambil data, sampai membacanya secara kritis,” jelas instruktur Ibu Mahmiah, S.Si., M.Si. (Kandidat Doctor) dari Prodi Oseanografi UHT.
Menghidupkan Kembali Semangat Kemaritiman Pelajar
Melalui rangkaian aktivitas tersebut, panitia berharap para pelajar semakin memahami bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan maritim yang harus dikelola dan dijaga. Program Studi Oseanografi, Universitas Hang Tuah menilai bahwa pendidikan bahari perlu dimulai dari generasi muda, terutama mereka yang bernaung di sekolah-sekolah Yayasan Hang Tuah yang berakar kuat pada tradisi kelautan.
“Kami ingin mereka menyadari bahwa laut bukan hanya tempat wisata, tapi ruang ilmu pengetahuan dan sumber kehidupan,” ujar Ibu Dr. Engki A Kisnarti, S.T., M.Si., IPP., MCE, Ketua Program Studi Oseanografi dari Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan UHT.
Antusiasme Tinggi dan Harapan Berkelanjutan
Di akhir kegiatan, para siswa berkumpul untuk menyampaikan refleksi di sela-sela permaian (game) yang sudah disiapkan. Banyak diantara mereka yang mengaku baru pertama kali memegang alat survei profesional dan tertarik untuk mendalami dunia kelautan khususnya Oseanografi setelah mengikuti pelatihan ini.
Program “Dari Pantai Menuju Pengetahuan” diharapkan menjadi kegiatan rutin dan dapat memperluas kolaborasi antara Program Studi Oseanografi, Universitas Hang Tuah dengan sekolah-sekolah lainnya, guna memperkuat generasi muda sebagai penjaga masa depan laut Indonesia.
Pantai menjadi ruang belajar, teknologi mahasiswa menjadi inspirasi, dan para siswa Hang Tuah pulang membawa pengetahuan baru—bahwa laut adalah laboratorium terbesar yang dimiliki bangsa ini.